Menu

Mode Gelap
 

Disway · 22 Aug 2023 12:45 WITA

Tempus Est


 Presiden Joko Widodo saat hadir dalam pengumuman capres PDIP, Ganjar Pranowo, beberapa waktu lalu. Perbesar

Presiden Joko Widodo saat hadir dalam pengumuman capres PDIP, Ganjar Pranowo, beberapa waktu lalu.

Oleh: Dahlan Iskan

 

ISTILAH Yunani ini bakal dihafal banyak orang: Tempus Abire Tibi Est. Terutama setelah beberapa hari terakhir beredar lagu bergenre deadrock berjudul Pengkhianat. 

Di lagu itu, Tempus Abire Tibi Est dipekikkan sampai enam kali. Saya pun ditanya banyak orang: apa artinya. Saya menebak jawabnya ada di pekikan di belakang Tempus Abire Tibi Est: waktumu sudah habis. 

Saya balik bertanya kepada banyak orang yang saya anggap ahli dalam filsafat Yunani. Tiga ilmuwan sosial. Dua orang Pastor Katolik. Pertanyaan saya sama: “Lahirnya istilah Tempus Abire Tibi Est berkaitan dengan apa di zaman siapa? Suwun. Mau saya kutip untuk tulisan saya”. 

Akhirnya saya harus menghubungi pujaan Anda: Rocky Gerung. Ia yang memberikan jawab: Itu terdapat di salah satu puisi karya Horace. “Ia banyak menghasilkan puisi bergaya satire,” ujar Rocky Gerung. “Horace adalah sastrawan Roma, zaman Kaisar Agustus,” tambahnya. 

Saya dapat tambahan keterangan dari ilmuwan muda yang juga mendalami filsafat. Saya sering diskusi dengan anak muda ini tapi belum pernah baku dapa. Diskusi saya lewat online. 

Nama anak muda itu hanya satu kata: Biiznillah. Saya yang diminta memberi kata pengantar di bukunya. Judul bukunya itu, LOGOS: Sengketa Tuhan dan Kebenaran, Dari Evolusi Ke Transendensi, Dari Mitos Hingga Filsafat. 

Menurut Biiznillah, ucapan di lagu Pengkhianat itu muncul pertama kali dalam Epstitles II.II karya Horace dalam puisi surat-surat pujiannya kepada kaisar Agustus yang pulang membawa kemenangan dari  beberapa peperangan.  

Biiznillah lahir di Liwa, pedalaman Lampung. Ia mengatakan “dari latar belakang Horatius yang penganut epicureanisme puisi-puisinya dipandang sebagai satire yang menggambarkan kemuakan pada semua kejayaan yang telah dicapai oleh Roma”. Pada akhirnya semua harus berakhir. “Bait-bait dalam puisi Horatius menggambarkan restropeksi dan instrospeksi yang mendalam mengenai kehidupan.  

Kalimat Tembus Abire Tibi Est justru dimunculkan setelah ungkapan pujian atas capaian-capaian yang gemilang Kaisar Roma. Di situ sekaligus disisipi nasihat-nasihat mengenai ketidakberartian capaian tersebut dibanding kenyataan hidup yang senantiasa mengenal batas.   

Seperti meminum air atau anggur, kita tidak mungkin bisa minum sebanyak-banyaknya. Ada batas di mana kita tidak bisa minum lagi. Saat itulah waktu yang tepat untuk pergi. Waktu yang tepat untuk mengakhiri. Bahwa kita telah menang, itu bukan tanda bahwa kita dapat terus melakukan hal yang sama. Justru kemenangan terkadang adalah sebuah isyarat kita harus berhenti. 

Biiznillah kini dosen IAIN Bengkulu. Umurnya baru 34 tahun. Karya Horace tersebut, katanya, muncul setelah Kaisar Agustus memenangkan Perang Actium melawan pemberontakan Mark Antony yang didukung oleh Ratu Mesir Cleopatra. Sebelum masehi itu, Horace (Quintus Horatius Flaccus) pergi sekolah ke Athena, pusat pendidikan terkemuka dunia saat itu. Yakni di sekolahnya filsuf Plato. 

Tapi kita tidak akan membahas Horace hari ini. Bahasan kita adalah lagu karya Prananda Prabowo Soekarno, putra kedua Presiden Megawati Sukarnoputri. Mengapa sampai enam kali memekikkan puisi Yunani itu. 

Bacalah teks lagunya, yang ketika saya buka di YouTube baru disiarkan 7 hari lalu: 

  

Telah kuserahkan seluruh jiwaku 

Untuk menjadi nafas dalam derap langkah perjuanganmu 

Dasar kau.. Pengkhianat 

  

Sangkakala pertarungan 

Kau tiupkan di wajahku 

Kau pikir karena kuasamu 

Mati langkahku kau buat 

  

Janjimu tipu muslihat 

Senyummu bulus membius 

Cukup sampai di sini lukaku dendamnya kurawat 

Tapi sisa waktu kesumatku 

  

Dasar kau pengkhianat 

Pengkhianat berwajah santun 

Dasar kau pengkhianat 

Lihat kuburmu adalah tempatmu 

  

Tempus Abire Tibi Est (Kamu Sudah Saatnya Pergi) 

Tempus Abire Tibi Est (Kamu Sudah Saatnya Pergi) 

Tempus Abire Tibi Est (Kamu Sudah Saatnya Pergi) 

  

Waktumu sudah habis 

Manusia tak punya malu 

  

Janjimu tipu muslihat 

Senyummu bulus membius 

Cukup sampai di sini lukaku dendamnya kurawat 

Tapi sisa waktu kesumatmu 

  

Dasar kau pengkhianat 

Pengkhianat berwajah santun 

Dasar kau pengkhianat 

Lihat kuburmu adalah tempatmu 

  

Tempus Abire Tibi Est (Kamu Sudah Saatnya Pergi) 

Tempus Abire Tibi Est (Kamu Sudah Saatnya Pergi) 

Tempus Abire Tibi Est (Kamu Sudah Saatnya Pergi) 

  

Waktumu sudah habis 

Manusia tak punya malu 

Tunggu saatnya kan tiba 

Pastilah akan tiba 

Tiba masa buat perhitungan 

Membalas pengkhianatan ini 

  

Tentu yang membaca lirik itu menghubungkannya dengan situasi politik terakhir. Yakni ketika Presiden Jokowi seperti memindahkan dukungan dari Capres Ganjar Pranowo ke Prabowo Subianto. 

Padahal bisa saja bukan. Bisa saja ada maksud yang lain. Siapa tahu lirik itu hanya ditujukan ke tokoh PDI-Perjuangan seperti Budiman Sudjatmiko. Yang kini terang-terangan mendukung Capres Prabowo. Atau jangan-jangan Prananda menunjukkan lirik lagu itu kepada Muhaimin Iskandar. Bahkan siapa tahu lirik itu ditujukan ke Zelenskyy di Ukraina sana. 

Bisa juga hari itu Prananda baru saja nonton wayang kulit semalam suntuk. Ia benci kepada salah satu tokoh wayang. Maka lirik itu ia tujukan untuk Patih Sengkuni. 

Berarti baiknya jangan ada yang tersinggung. Apalagi, setelah saya teliti, ternyata lirik itu ditulis tahun 2015. Tidak ada perubahan lirik apa pun saat lagu Pengkhianat disiarkan di YouTube tujuh hari lalu. 

Maka saya ingat-ingat: ada kekecewaan apakah di tahun itu. Rasanya tidak ada. Toh Prananda tidak pernah punya keinginan masuk dalam daftar kabinet baru. Prananda tidak kelihatan punya ambisi politik. Di PDI-Perjuangan pun tidak pernah dipanggungkan. Padahal jabatan dalam partai sangat tinggi: salah satu ketua DPP. 

Saya hanya bertemu Prananda satu kali. Di pemakaman Taufiq Kiemas, ayah tirinya.  

Prananda, Anda sudah tahu, putra kedua Megawati dari suami pertama: Kapten Penerbang Anumerta Surindro Supjarso. 

Di pemakaman itu Prananda berpidato mewakili keluarga. Pakai peci hitam. Saya terkesima. Hampir persis Bung Karno di saat muda. Saya sampai heran saat itu:  mengapa ”Bung Karno Muda” ini tidak pernah dipromo sebagai putra mahkota Megawati. 

Prananda, dengan lagu itu, tampil garang. Serangan kepada Presiden Jokowi  tidak hanya lewat programnya, juga lewat lagu seperti itu.  

Prananda memang juga seperti Bung Karno: seniman. Khususnya musik. Ia penggemar rock aliran paling keras: deadrock. Jenis lagu seperti Pengkhianat sering juga disebut rock underground. 

Di aliran ini, salah satu grup band Indonesia yang populer adalah Deadsquad. Saya juga menggolongkan Erix Soekamti di kelompok ini tapi ia sendiri menyebut diri ”rock saja”. 

Pertanyaan penting: apakah dengan sorotan seperti itu ada kemungkinan Jokowi balik dukung Ganjar lagi? 

“Dari sisi Pak Jokowi mungkin saja. Tinggal apakah PDI-Perjuangan masih mau menerima”, ujar seorang politisi yang kini punya podcast terkenal. 

Dulu, setelah ada lagu Celeng Degleng Megawati mau menerima Ganjar yang didukung Jokowi. Kini, setelah ada lagu Pengkhianat entah apa yang akan terjadi. (*)

Artikel ini telah dibaca 16 kali

badge-check

Editor

Baca Lainnya

Aliran Sesat

12 March 2024 - 09:05 WITA

Aliran Sesat

Quick Count

20 February 2024 - 17:56 WITA

PEMILU sudah selesai. Itulah perasaan mayoritas rakyat. Mereka begitu percaya pada quick count.

Anak-Anak Panti Asuhan Shabri Dilatih Gunakan Komputer

28 December 2023 - 05:50 WITA

Istikharah Rupiah

20 October 2023 - 10:45 WITA

Ceki Domino

24 August 2023 - 09:27 WITA

Domino

Menyebar Porno

23 August 2023 - 13:14 WITA

Kaitlyn Cannon. (Instagram-@Kaitlyn) Menyebar Porno
Trending di Berita